Minggu, 12 Mei 2013

ekonomi pembangunan-peranan sector pertanian dalam pembangunan ekonomi


EKONOMI PEMBANGUNAN
TUGAS 6



 






















Adelfina
1115151023







PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2013

1.      Peranan sector pertanian dalam pembangunan ekonomi
Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting karena sebagian besar anggota masyarakat di negara-negara miskin menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Para petani di negara-negara sedang berkembang tidak hanya berproduksi untuk kebutuhan mereka saja, mereka juga berproduksi untuk memenuhi kebutuhan perkotaan. Jika pangsa (share) penduduk perkotaan terhadap penduduk keseluruhan meningkat, maka produktivitas para petani pun harus meningkat. Sektor pertanian juga dapat merupakan sumber modal yang utama bagi pertumbuhan ekonomi yang modern. Modal berasal dari tabungan yang diinvestasikan dan tabungan berasal dari pendapatan. Di negara-negara yang paling miskin, pangsa pendapatan pertanian terhadap produk nasional mencapai 50 persen. Berarti separuh atau lebih dari produk nasional disumbangkan oleh sektor non-pertanian, terutama industri dan perdagangan (jasa-jasa), dan sektor-sektor ini merupakan penyumbang penting bagi tabungan yang akhirnya digunakan untuk investasi.

2.      Tahap-tahap pembangunan pertanian
Ada 3 fase perkembangan pembangunan pertanian. Fase pertama adalah pertanian tradisional yang produktivitasnya rendah. Fase kedua dalah fase penganekaragaman produk pertanian sudah mulai terjadi di mana produk pertanian sudah ada yang dijual ke sektor komersial, tetapi pemakaian modal dan teknologi masih rendah. Fase ketiga adalah fase yang menggambarkan pertanian yang modern yang produktivitasnya sangat tinggi yang disebabkan oleh pemakaian modal dan teknologi yang tinggi pula. Pada fase ini produk pertanian seluruhnya ditujukan untuk melayani keperluan pasar komersial. Modernisasi pertanian dari fase tradisional (subsisten) menuju pertanian modern  membutuhkan banyak upaya lain selain pengaturan kembali struktur ekonomi pertanian atau penerapan teknologi pertanian yang baru. Kita telah mengetahui bahwa dalam hampir bagi semua masyarakat tradisional, pertanian bukanlah hanya sekedar kegiatan ekonomi saja, tetapi sudah merupakan bagian dari cara hidup mereka. Setiap pemerintah yang berusaha mentransformasi pertanian tradisional haruslah menyadari bahwa pemahaman akan  perubahan-perubahan yang mempengaruhi seluruh struktur sosial, politik dan kelembagaan masyarakat pedesaan adalah sangat penting. Tanpa adanya perubahan-perubahan seperti itu, pembangunan pertanian tidak akan pernah bisa berhasil seperti yang diharapkan.
Tahap-tahap pembangunan pertanian adalah :
a.       Pertanian Tradisional (Subsisten).
Dalam pertanian tradisional, produksi pertanian dan konsumsi sama banyaknya dan hanya satu atau dua macam tanaman saja yang merupakan sumber pokok bahan makanan. Produksi dan produkivitas rendah karena hanya menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Penggunaan modal sangat sedikit sekali, sedangkan tanah dan tenaga kerja manusia merupakan factor produksi yang dominan. Dalam keadaan yang demikian, kekuatan motivasi utama dalam kehidupan para petani ini barangkali bukanlah meningkatkan penghasilan tetapi berusaha untuk bisa mempertahankan kehidupan keluarganya.
b.      Pertanian Tradisional Menuju Pertanian Modern.
Mungkin merupakan suatu tindakan yang kurang realistis jika mentransformasikan secara cepat suatu system pertanian yang tradisional ke dalam system pertanian yang modern (komersial). Upaya untuk mengenalkan tanaman perdagangan dalam pertanian tradisional sering mengalami kegagalan dalam membantu petani untuk meningkatkan tingkat kehidupannya. Oleh karena itu, penganekaragaman merupakan suatu langkah pertama yang cukup logis dalam masa transisi dari pertanian tradisional (subsiten) ke pertanian modern (komersial). Pada fase ini tanaman pokok tidak mendominasi produk pertanian lagi. Diversifikasi produk pertanian juga bisa memperkecil dampak kegagalan panen tanaman pokok dan memberikan jaminan kepastian pendapatan yang sebelumnya tidak pernah ada. Keberhasilan atau kegagalan usaha-usaha untuk menstraformasikan pertanian tradisional tidak hanya tergantung pada ketrampilan dan kemapuan para petani dalam meningkatkan produktivitasnya, tetapijugatergantung pada kondisi-kondisi social, komersial dan kelembagaan.
c.       Pertanian modern
Pertanian modern atau dikenal juga dengan istilah pertanian spesialisasi menggambarkan tingkat pertanian yang paling maju. Pertanian spesialisasi ini berkembang sebagai respon terhadap dan sejalan dengan pembangunan yang menyeluruh di bidang-bidang lain dalam ekonomi nasional. Dalam pertanian modern (spesialisasi), pengadaan pangan untuk kebutuhan sendiri dan jumlah surplus yang bisa dijual, bukan lagi merupakan tujuan pokok. Keuntungan (profit) komersial murni merupakan ukuran keberhasilan dan hasil  maksimum per hektar dari hasil upaya manusia (irigasi, pupuk, pestisida, bibit unggul dan lain-lain) dan sumber daya alam merupakan tujuan kegiatan pertanian. Dengan kata lain, produksi diarahkan untuk keperluan pasar.

3.      Strategi modermisasi pertanian
a.       Perubahan Teknologi dan Inovasi.
Pada sebagian besar negara-negara sedang berkembang, teknologi baru di bidang pertanian dan inovasi-inovasi dalam kegiatan pertanian merupakan prasyarat bagi upaya-upaya dalam peningkatan output dan produkivitas.
b.      Perbaikan Pola Pemilikan Tanah (Land Reform).
Dari segi kemanusiaan, keterkaitan petani kecil terhadap tanahnya sangat mendalam. Apabila petani kehilangan tanahnya atau ia jatuh miskin karena dicekik utang yang menumpuk, maka bukan hanya keadaan lahariah saja yang ruda, tetapi juga rasa kepercayaan pada diri sendiri dan semangat untuk berusaha memperbaiki dirinya dan keluarga bisa hancur. Dari segi peningkatan hasil pertanian, perbaikan pola pemilikan tanah sering kali dianggap sebagai kondisi awal yang diperlukan untuk pembangunan pertanian di berbagai neegara sedang berkembang. Pada sebagian besar negara sedang berkembang, struktur pemilikan tanah yang sangat tidak seimbang sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam pemerataan penghasilan dan kekayaan bagi rakyat perdesaan. Apabila pembagian tanah sangat ytimpang, maka sedikit sekali harapan bagi petani kecil di pedesaan untuk apat mengembangkan perekonomiannya.
c.       Kebijaksanaan-kebijaksanaan Penunjang.
Seluruh keuntungan dari pembangunan usaha tani kecil tidak akan bisa dicapai jika Pemerintah tidak menciptakan kebijaksanaan atau system kelembagaan yang menunjang,misalnya berupa insentif yang diperlukan, kesempatan berusaha dalam kegiatan ekonomi, dan kemudahan untuk memperoleh input yang diperlukan yang memungkinkan para petani kecil bisa meningkatkan output mereka dan sekaligus meningkatkan produktivitas mereka.
d.      Tujuan Pembangunan Terpadu.
Pembangunan perdesaan terutama sekali masih tergantung pada kemajuan usaha tani dari para petani kecil. Kemajuan itu meliputi : (a) perbaikan taraf hidup termasuk pendapatan, pendidikan, kesehatan atau nutrisi, perumahan dan hal-hal lain yang berhubungandengan jaminan-jaminan social. (b) mengurangi ketimpangan pemerataan pendapatan di pedesaan dari ketimpangan pendapatan antara pedesaan dan perkotaan serta kesempatan-kesempatan berusaha, dan (c) perbaikan kapasitas sektor perdesaan dari waktu kewaktu.


4.      Syarat-syarat pembangunan pertanian
Menurut  Mosher ada 5 syarat yang tidak boleh tidak harus ada ( syarat mutlak ) untuk adanya pembangunan pertanian. Kalau satu saja diantara syarat-syarat tersebut tidak ada, maka terhentilah pembangunan pertanian, pertanian bisa berjalan tetapi statis.
Syarat-syarat mutlak itu menurut Mosher adalah :
a.       Adanya pasar untuk hasil-hasil usaha tani.
Pembangunan pertanian akan meningkatkan produksi hasil-hasil usaha tani. Hasil-hasil ini tentunya akan dipasarkan dan dijual dengan harga yang cukup tinggi untuk menutupi biaya-biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan para petani sewaktu memproduksinya. Di dalam memasarkan hasil-hasil produk pertanian ini diperlukan adanya permintaan ( demand) akan hasil-hasil pertanian tersebut, sistem pemasaran, dan kepercayaan para petani pada sistem pemasaran tersebut.
b.      Teknologi yang senantiasa berkembang.
Teknologi pertanian berarti cara-cara bertani. Di dalamnya termasuk cara-cara bagaimana para petani menyebarkan benih, memelihara tanaman, dan memungut hasil serta memelihara ternak. Termasuk pula di dalamnya benih, pupuk, obat-obatan, alat-alat dan sumber-sumber tenaga. Tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal. Pembangunan pertanian memerlukan kesemua factor di atas dan tersedia di berbagai tempat dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi keperluan tiap petani yang mungkin mau menggunakannya.
c.       Adanya perangsang produksi bagi petani.
Faktor perangsang utama yang membuat petani bergairah untuk meningkatkan produksinya adalah yang bersifat ekonomis. Faktor tersebut antara lain adalah harga hasil produksi pertanian yang menguntungkan, pembagian hasil yang wajar, serta tersedianya barang-barang dan jasa yang ingin dibeli oleh para petani untuk keluarganya.
d.      Tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinyu.
Tanpa pengangkutan yang efisien dan murah, keempat syarat mutlak lainnya tidak dapat berjalan secara efektif, karena produksi pertanian harus tersebar luas. Oleh karena itu diperlukan suatu jaringan pengangkutan yang bercabang luas untuk membawa bahan-bahan perlengkapan produksi ke tiap usaha tani dan membawa hasil usaha tani ke konsumen di kota-kota besar dan kecil. Disamping ke lima syarat mutlak itu,  menurut Mosher ada lima syarat lagi yang adanya tidak mutlak tetapi kalau ada (atau dapat diadakan) benar-benar akan sangat memperlancar pembangunan pertanian.



Daftar Pustaka

n  Arsyad, Lincolin. 1993. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta. Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi – YKPN.
n  Sukirno, Sadono. 1995. Ekonomi pembangunan. Jakarta. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

please share :)
thank you...